English (United Kingdom)Indonesian (ID)

Tempat Suci Masa Majapahit I

SEJARAH SINGKAT KERAJAAN MAJAPAHIT.

Majapahit sebuah kerajaan  besar yang didirikan oleh Raden Wijaya pada tahun 1293 Masehi di sebuah hutan Trik yang diperkirakan berlokasi di Trowulan sekarang.(foto 1)

Sebuah kerajaan agro-maritim,  yang hidup dari pertanian dan perdagangan  sekaligus. (foto 2.)

Berdasarkan data artefaktual, dan data tekstual yaitu prasasti, karya sastra Jawa Kuna/Jawa Tengahan, serta berita2 Cina, kerajaan ini berakhir sekitar abad XVI.

Keruntuhan kerajaan ini pertama disebabkan oleh perang saudara, perebutan kekuasaan, dan kedua karena bencana alam gunung meletus. Menurut penelitian Dr Sartono dan Bandono dari ITB (1995), setelah raja Hayam Wuruk wafat, telah terjadi delapan kali letusan gunung Kelud yang sangat merugikan kehidupan di Majapahit.

Sejarah Majapahit ini dimulai ketika Raden Wijaya, menantu raja Krtanagara raja terakhir kerajaan Singasari, menaklukkan raja Jayakatwang raja Kediri dengan bantuan Arya Wiraraja seorang petinggi Madura.

Selain alasan politik, Wijaya menyerang Jayakatwang, karena raja Kediri tersebut yang juga besan Krtanagara, telah menyerang dan membunuh raja Krtanagara ketika Krtanagara sedang melakukan upacara keagamaan dengan para pejabat Singasari dan agamawan kerajaan tersebut. Raden Wijaya kemudian diangkat menjadi raja pertama Majapahit dengan gelar Krtarajasa Jayawarddhana.  Ia mulai membentuk hegemoni Majapahit  dengan usaha legitimasi kedudukannya berdasarkan keterkaitannya dengan raja Krtanagara.

Dalam prasasti Gunung Penanggungan yang dikeluarkan atas perintah Wijaya tahun 1296 Masehi, dikatakan Krtarajasa Jayawarddhana mempunyai empat isteri, semuanya puteri Krtanagara (sacaturbhrtr-patnika). Mereka adalah Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari, Sri Mahadewi Dyah Narendraduhita, Sri Jayendradewi Dyah Prajnaparamita, dan Rajendradewi Dyah Dewi Gayatri.

Awal kerajaan Majapahit ini ditandai oleh berbagai pembrontakan kepada tiga raja yang berturut-turut  memerintah. Pertama Wijaya setelah mendirikan Majapahit ingin memperluas kerajaannya namun terhalang oleh pembrontakan2 tersebut hingga ia wafat dan digantikan oleh puteranya, Jayanagara (1309-1328).

Jayanagara yang belum berputera ketika wafat kemudian pemerintahan dilanjutkan oleh ratu Tribhuwanottungadewi Jayawisnuwarddhani (1328-1350), saudara perempuan Jayanagara. Berbagai pembrontakan ini dapat ditumpas oleh Mpu Mada atau Gajah Mada, seorang bhayangkari muda, dan di hadapan ratu Tribhuwana dan pejabat lainnya Mpu Mada ini mengucapkan  sumpah palapa.

Demikian pula ia melontarkan gagasan politik Nusantara, yaitu akan menundukkan dan menyatukan daerah2 di bawah kekuasaan Majapahit.

Atas jasa2nya membasmi pembrontakan2 tersebut Gajah Mada kemudian diangkat menjadi patih di Daha, dan selanjutnya menjadi Mahapatih di Majapahit pada waktu pemerintahan raja Hayam Wuruk, raja keempat Majapahit yang memerintah tahun 1350-1389.

Pada waktu pemerintahan raja Hayam Wuruk, Majapahit mencapai jaman keemasan, hegemoni Majapahit tetap dipertahankan, meski harus berusaha sendiri selama 25 tahun tanpa didampingi Gajah Mada yang telah meninggal tahun 1364.

Namun ketika Hayam Wuruk wafat tahun 1389, mulailah konflik internal perebutan kekuasaan, yang dimulai oleh Bhre Wirabhumi anak Hayam Wuruk dari selir. Ia telah mendapat daerah di Blambangan yang disebut “kedaton timur” namun kurang puas dan timbul persengketaan antara Bhre Wirabhumi melawan Wikramawarddhana di “kedaton barat”. Perang perebutan tahta ini dikenal sebagai perang paregreg, dengan kekalahan di fihak Bhre Wirabhumi. Selanjutnya, walaupun Bhre Wirabhumi  sudah gugur, peristiwa pertentangan keluarga ini belum reda, bahkan peristiwa terbunuhnya Bhre Wirabhumi telah menjadi benih dendam dan persengketaan keluarga terus menerus, hingga abad XVI.

Berakhirnya kerajaan Majapahit ini masih belum ada kesepakatan.  Menurut tradisi Babad dan kitab-kitab lain, jatuhnya Majapahit oleh raja2 Demak pada sekitar abad XV yang disebut dengan candrasengkala “sirna ilang kertaning bhumi” yang mempunyai arti 1400 Saka (1478 Masehi). Namun ternyata masih ada 4 prasasti Majapahit yang disebut prasasti Jiu atau Trailokyapuri dari tahun 1486 Masehi dengan raja yang berkuasa Dyah Ranawijaya yang bergelar Girindrawarddhana.

Demikian pula menurut tradisi Babad, raja-raja Majapahit disebut dengan nama Brawijaya I,II, III dan seterusnya, namun gelar-gelar tersebut tidak pernah dijumpai dalam prasasti-prasasti piagam resmi raja, maupun karya sastra Jawa Kuna/Jawa Tengahan. Gelar-gelar tersebut mungkin berasal dari perpaduan gelar kehormatan (honorifix prefix) raja-raja Majapahit yaitu Bhatara yang disingkat Bhra atau Bhre (Bhra + i), dan Wijaya diambil dari nama raja Majapahit pertama yaitu Wijaya.


AGAMA DAN SARANA RITUALNYA

Telah dikemukakan pada awal tulisan ini, raja-raja di Jawa sejak Mpu Sindok, kebanyakan menganut agama Siwa dari aliran Siwasiddhanta.

Raja-raja Majapahit kebanyakan  memeluk agama Siwasiddhanta, kecuali Ratu Tribhuwanottunggadewi, ibu raja Hayam Wuruk, memeluk agama Buddha Mahayana.  Walaupun tidak banyak raja yang memeluk agama Buddha, namun kedua agama tersebut yaitu agama Siwa dan agama Buddha menjadi agama resmi Majapahit.

Untuk mengawasi berbagai aktifitas keagamaan telah diangkat dua pejabat tinggi keagamaan  Saiwa maupun Bauddha. Jabatan tersebut adalah Dharmadhyaksa ring Kasaiwan atau Saiwadhyaksa, dan Dharmadhyaksa ring Kasogatan atau Buddhadhyaksa.

Di samping kedua pejabat tinggi tersebut terdapat  Dewan Peradilan yang lebih rendah kedudukannya dari kedua pejabat tersebut di atas,  anggotanya bergelar “Sang Pamgat” berjumlah 5-7 orang berasal dari kedua agama tersebut. Jumlah anggota menjadi 7 orang terjadi pada waktu pemerintahan Tribhuwana dan secara keseluruhan tujuh pejabat itu disebut Sang Saptopapatti. Dalam kakawin Nagarakrtagama karangan Mpu Prapanca penjelasan tentang para pejabat tersebut adalah: dhyarmadhyaksa kalih lawan sang upapatti sapta dulur. Namun pejabat agama Buddha terakhir kali ditemukan pada prasasti Waringin Pitu tahun 1447 Masehi, sedangkan pejabat  agama Siwa yang rupanya tetap bertahan. Para pejabat keagamaan ini bertugas mengawasi bangunan suci dan aktivitas  pemeluk agama di wilayah Majapahit.

Di samping dua agama besar tersebut di Majapahit masih terdapat beberapa agama lainnya, di antaranya beberapa aliran agama Siwa, yaitu agama Siwa Bhairawa (Bherawa Siwapaksa) yang telah muncul sejak jaman Kadiri. Menurut salah satu prasasti raja Jayabhaya, guru raja Jayabhaya memeluk agama Siwa Bhairawa. Selanjutnya di Majapahit terdapat agama Siwa yang dikembangkan oleh para resi (pertapa), para pemuja Siwa dalam bentuk Lingga, agama Waisnawa yang tidak terlalu banyak penganutnya, dan agama setempat atau agama lokal.  Untuk mengelola agama-agama itu terdapat para agamawan yang disebut berkelompok tiga (tripaksa) yaitu rsi-saiwa-sogata, atau berkelompok empat (caturdwija) yaitu rsi-saiwa-sogata-mahabrahmana.(foto3.)

Rsi (resi) disini bukan tokoh mitos tetapi para pertapa yang telah meninggalkan keduniawian dan menjalani hidup tahap wanaprastha (:tinggal di hutan). Sementara itu, mahabrahmana adalah pendeta-pendeta yang datang dari India dan menetap di Majapahit. Mereka disebut Brahmaraja, dan ahli dalam agama Siwa, Filsafat Hindu dan Tata Bahasa (Sansekerta).

Kakawin Nagarakrtagama membicarakan pula tempat-tempat suci masa Majapahit, termasuk status jenis-jenis bangunan suci.

Menurut  kakawin itu, ada dua kelompok besar tempat suci, yaitu pertama tempat-tempat suci yang ada di bawah pengawasan langsung pemerintah pusat dan kedua tempat-tempat suci yang berada di luar pengawasan pemerintah pusat. Tempat-tempat suci yang ada di bawah pengawasan pemerintah pusat adalah:

  1. Dharma dalm atau dharma haji, yaitu tempat2 suci untuk kepentingan raja dan keluarganya, terdapat 27 buah termasuk yang didirikan pada masa Singasari. Tidak semua yang disebut kita kenali lagi, mungkin sudah rusak atau namanya sudah berganti.  Bangunan suci yang disebut di antaranya Kagenengan (?), Jajaghu (Jago), Kidal, Jawa-jawa (Jawi), Bhayalango, Simping .
  2. Dharma-lpas, yaitu bangunan untuk para pemeluk agama Siwa, Buddha dan Karesyan, yang didirikan di atas bhudana (tanah yang diwakafkan )

Termasuk kelompok kedua adalah tempat-tempat suci yang ada di luar pengelolaan pemerintah pusat, dan letaknya pun jauh dari pusat kota.

Tempat suci kelompok ini ada beberapa jenis, tetapi yang terpenting adalah Kadewaguruan yang dikenal sebagai Mandala, yaitu pusat pendidikan agama, dipimpin oleh seorang Maharesi (Siddharesi) yang juga disebut sebagai Dewaguru.  Letak Kadewaguruan  antara lain di lereng2 gunung, di tepi pantai, di hutan2.  Salah satu Mandala pernah dikunjungi oleh Hayam Wuruk ketika berkeliling mengunjungi wilayahnya, yaitu Wanasrama Sagara.

Pada masa Majapahit terdapat banyak tempat2 suci, baik dalam bentuk patirthan,    gua-gua pertapaan , maupun  candi-candi.

Salah satu contoh patirthan masa Majapahit adalah  candi Tikus yang terletak di Trowulan.  Kolam berdenah bujur sangkar dengan ukuran 22.50 x 22.50 meter, dengan kedalaman 3.50 meter. Undak2an ada di sebelah utara dan ada dua kolam kecil  di sudut-sudut utara kolam.

Air pengisi kolam, keluar dari pancuran yang ada di dinding kolam, dahulunya berjumlah 46 buah, sekarang tinggal 19 buah, sedangkan saluran untuk pembuangan air ada di dasar kolam.  Pada sisi selatan terdapat lapik (batur) untuk menempatkan miniatur candi, dan beberapa altar, yang dipakai untuk meletakkan sesaji atau dipakai bersemedi, memusatkan fikiran kepada Paramasiwa.

Dalam agama Siwasiddhanta, puja kepada dewa ada dua macam, yaitu bahya puja (puja luar), yaitu puja kepada dewa tertentu yang diwujudkan dalam bentuk arca, yantra atau benda-benda tertentu.

Kedua manasa puja (puja dalam), puja tanpa sarana arca atau benda2 lain. Manasa puja dilakukan oleh mereka yang pengetahuan spiritualnya telah sangat tinggi, misalnya para rsi (pertapa), sehingga candi-candi untuk kaum resi, misalnya candi-candi berundak teras di lereng-lereng gunung tidak diberi arca.

Gua-gua pertapaan terdapat beberapa buah, 9 di antaranya di lereng gunung Penanggungan atau gunung Pawitra. Satu di antaranya ada di dekat bangunan berundak teras Kendali Sada di lereng gunung Penanggungan. Keistimewaan gua ini, di dindingnya diberi  relief Bhima sedang di tengah lautan, yaitu cuplikan cerita Dewaruci.

Pada masa akhir Majapahit, Bhima dianggap sebagai mediator antara manusia dan Siwa, dianggap sebagai penolong manusia yang ingin mencapai moksa. Arca-arcanya banyak ditemukan di lereng2 gunung, di candi-candi milik para resi (pertapa), termasuk candi Sukuh. Mengapa relief Dewaruci yang dipakai untuk menghias dinding pertapaan Kendalisada ?

Cerita Dewaruci disusun pada masa Majapahit, menceritakan Bhima disuruh Durna, gurunya, mencari air amrta (air kehidupan). Di samping usahanya yang berhasil, Bhima berjumpa dengan Dewaruci, yang memberi pengetahuan tentang rahasia hidup, pemahaman tentang asal (sangkan) dan tujuan (paran) segala apa yang diciptakan (dumadi). Bhima  disuruh masuk tubuh Dewaruci yang tubuhnya sangat kecil melalui telinga kirinya. Semula ia menemukan diri dalam kekosongan tanpa batas dan kehilangan segala orientasi. Namun selanjutnya ia melihat kembali matahari, tanah, gunung dan laut. Ia melihat empat warna kuning, merah, hitam dan putih, serta sebuah boneka dari gading sangat kecil yang melambangkan pramana, prinsip hidup ilahi yang ada di dalam dirinya. Bhima sadar bahwa hakikatnya yang paling dalam telah manunggal dengan Ilahi.  Dengan keberhasilannya  mencapai dimensi realitas hidup yang terdalam, Bhima menjadi lambang keberhasilan dan menjadi tokoh panutan (semacam guru) para resi.

Berdasarkan ciri-ciri arsitektural dan struktural, candi-candi Majapahit ini paling sedikit memiliki dua gaya, yaitu candi-candi dengan gaya Singasari atau gaya Kidal.

Candi-candi ini memiliki 3 bagian candi, beratap tinggi, dan tidak memiliki selasar untuk melakukan pradaksina (mengitari candi dengan mengikuti arah jarum jam). Namun para seniman agama (silpin) masa Majapahit  telah mengembangkan daya kreasinya sehingga menghasilkan ciri-ciri yang khas masa Majapahit, yaitu munculnya sepasang tangga di kiri kanan tangga pintu masuk yang kemudian bertemu  membentuk tangga  tunggal masuk ke dalam candi. Salah satu contoh adalah tangga pada candi Pari  (foto 4).

Candi-candi gaya Majapahit memiliki ciri-ciri yang belum ada pada masa sebelum masa Majapahit, yaitu kaki candi berundak-teras tiga, salah satu atau lebih bagian tubuhnya tidak dijumpai lagi.  Berdasarkan ciri-cirinya  candi gaya Majapahit ini kita kelompokkan menjadi dua:

  1. Kaki bangunan berundak-teras tiga, dengan dua tangga atau tunggal yang menghubungkan  ketiga teras tersebut.  Dengan adanya penampil untuk tangga yang menjorok ke depan maka tubuh candi  seakan-akan tergeser ke belakang dari titik pusat bangunan.  Tiga buah relung pada dinding tubuh candi untuk menempatkan arca dewa tertentu.  Atap candi tidak ditemukan lagi, mungkin dibuat dari bahan yang mudah rusak dan bentuknya bertingkat seperti bentuk Meru di Bali. Hal ini dikemukakan, karena salah satu relief pada dinding candi Jago, Malang, terdapat relief  candi dengan atap tumpang tujuh atau sembilan. Di samping candi Jago, termasuk kelompok ini adalah candi Rimbi dekat Jombang, candi induk Panataran dekat Blitar.(foto5 a & b.)

 

 

JagadKejawen,

Prof.DR Hariani Santiko

 

 

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday17
mod_vvisit_counterYesterday2042
mod_vvisit_counterThis week5921
mod_vvisit_counterThis month45791
mod_vvisit_counterAll1380141